Kening Gadis Bercahaya
Budy S.M. dan Sabilatul M.
Gemerlap bintang bertabur
cahaya di langit malam. Desiran angin membuat mata tak mampu lagi untuk dibuka.
Seakan ikut terbawa menikmati indahnya malam, hamparan sawah pun menari-nari saat
angin mulai berhembus. Ketika mereka semua terlelap dalam tidur dengan
pengantar mimpi yang indah, tampak seorang gadis bersujud di atas sajadah
dengan memakai mukenah berwarna putih bersih.“Yaa.. Allah.., izinkan aku untuk selalu merindukan saat-saat indah kuberbincang dengan-Mu di sepertiga malamku!”
Di sinilah Aira, salah seorang gadis yang berasal dari keluarga biasa yang mempunyai sebuah toko kecil yang menjual beraneka macam gorengan yang terletak di dekat sekolah SMA Negeri 1 Bogor. Di mana sekolah tersebut merupakan sekolah terfavorit di daerah itu. Awalnya Aira tidak ada yang tersirat di hatinya untuk masuk di sekolah itu. Alasan utamanya adalah biaya operasional untuk masuk sekolah tersebut sangatlah besar. Akan tetapi, berkat usaha dan doa yang ia lakukan selama menginjak di bangku SMP dengan prestasi dan tekad yang kuat, Allah pun memberikan jalan terbaik untuknya sehingga ia dapat diterima di SMA tersebut melalui beasiswa berprestasi tanpa dipungut biaya sepeserpun.
Setelah selesai melaksanakan sholat malam, Aira pun bergegas untuk tidur kembali menemani bantal, guling, selimut yang sedang menunggunya sejak tadi.
***
Seiring malam berganti
pagi, sinar mentari menyapa dia dengan senyuman yang penuh ceria seakan-akan
mengajak dirinya untuk pergi ke sekolah yang baru.“Selamat pagi, dunia!” ucapnya dengan penuh kegembiraan.
Tak lupa pula sebelum berangkat ke sekolah, ia meminta doa restu kepada ibunya. Aira merupakan anak tunggal dari keluarga tersebut sekaligus anak yatim. Ayahnya telah meninggal sejak ia masih berumur 5 tahun. Sambil mengayuh sepeda, tampak terlihat di wajahnya semangat yang meledak-ledak dengan membawa wadah yang berisi 40 buah pisang goreng.
Suasana di pagi hari yang tenang, tiba-tiba berubah menjadi panas. Ketika, “Bruakk!!” mobil XENIA berwarna merah menabrak sepeda Aira hingga ia terjatuh dan tak sengaja wajahnya tertutupi oleh hijab putihnya.
“Hei..!!!(dengan raut muka merah padam) Dasar orang miskin, gak tau apa kalau ada mobil mewah yang mau lewat sini!! Emang loe pikir ini jalan punya nenek moyang loe apa!!” ucap salah satu cowok yang ada di dalam mobil itu.
Aira pun termenung dalam balutan hijab merasa bahwa dirinya bersalah karena sudah menabrak mobil. Belum sempat ia melontarkan sepatah kata, cowok tersebut pun langsung memarahinya dengan kata – kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa pada umumnya. Ternyata Aira baru sadar, kalau wajahnya tertutupi oleh hijabnya. Oleh karena itu, ia pun langsung menarik hijabnya kembali agar wajahnya tak tertutupi olehnya. Ia berniat untuk meminta maaf kepada mereka tetapi mereka keburu pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Aku harus meminta maaf kepada mereka, aku harus bertanggung jawab!”
Setelah kejadian itu terjadi, Aira pun bergegas melanjutkan perjalanannya agar tidak terlambat masuk ke sekolah. Tetapi sebelum itu, ia mengantarkan pisang goreng terlebih dahulu ke salah satu toko yang ia kehendaki.
Sesampainya ia di sekolah, “Teet…Teet…Teet,” tepat ia di depan gerbang, bel masuk pun berbunyi. Untung saja Aira sudah sampai di sekolah tepat pada waktunya, kalau tidak bisa gawat. Langkah demi langkah ia lalui, sampailah ia berada tepat di depan kelas barunya. Semua siswa mencari tempat duduk masing-masing. Aira pun juga mencari tempat duduk yang akan ia tempati selama 1 tahun sebagai siswa kelas X MIA 1. Wali kelas X MIA 1 adalah Bu Novita Fransisca yang akrab disapa Bu Novi. Kegiatan awal memulai tahun pelajaran 2014/2015, SMA Negeri 1 Bogor memperkenalkan kurikulum 2013 yang akan dijalaninya.
“Selamat pagi anak-anak, kenalkan saya Bu Novi. Saya wali kelas kalian untuk satu tahun ke depan ini.” kata Bu Novi
“Iya, Bu!” sahut kami murid baru kelas X MIA 1
“Teet…Teet...,” bel istirahat pertama pun berbunyi. Sebagian siswa yang masih canggung dengan teman-teman barunya masih berkumpul dengan teman lamanya. Akan tetapi, berbeda halnya dengan Aira. Ia lebih memilih duduk manis di kelasnya sambil membaca buku daripada berkumpul dan bergurau dengan teman lamanya.
“Hei…! Salam kenal, aku Salsa. Kamu?”
“Aku Aira,” (dalam hati) “Senang juga rasanya bisa dapat teman baru.”
Mereka berdua pun saling mengenal antar satu sama lain. Mereka bertukar cerita tentang suka duka di masa putih biru. Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepatnya hingga “Teet…Teet…Teet…,” bel pulang pun berbunyi dan seluruh siswa bergegas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
***
Sebelum
pulang, Aira mengambil sepeda yang ia parkir di depan Aula Scout Center. Tiba-tiba
Aira tidak sengaja melihat dari kejauhan mobil XENIA berwarna merah yang sedang
parkir berada tepat di sebelah sepedanya. Ia pun teringat akan janji pada
dirinya sendiri untuk meminta maaf akan kesalahan yang terjadi tadi pagi.
Ia menunggu beberapa saat, akhirnya cowok itu pun
muncul dengan ditemani dua cowok di belakangnya. Mereka bertiga melangkahkan
kaki dengan gayanya yang penuh dengan kesombongan dengan memakai kacamata hitam
dan jaket berwarna abu-abu berinisial 3D. 3D adalah kepanjangan dari Dafa,
David, dan Deswa. Mereka adalah tiga cowok cool, bukan hanya cool tetapi juga
pandai dan terkenal sangat kaya raya. Mereka adalah calon penerus bisnis Hotel Novotel Bogor, yaitu salah satu
hotel berbintang 4 di kawasan kota hujan, Bogor, Jawa Barat.
“Siapa kau! Berani sekali
kau menghalangi jalanku!” ujar Dafa dengan nada tinggi dan raut muka sinis
tanpa belas kasihan.“Sebelumnya saya minta maaf, karena tadi pagi sayalah yang menabrak mobil anda,” sahut Aira dengan suara lemah lembut dengan tatapan penuh kasih sayang.
Dafa, David, dan Deswa sangat terkejut ketika mendengar ucapan yang diutarakan oleh Aira. Tanpa berpikir panjang Dafa pun langsung memarahinya habis-habisan. Tetapi Aira tak membalas perkataannya sama sekali. David dan Deswa berusaha untuk meredam amarah Dafa. Bersamaan dengan itu, “Diin…Diin…,” terdengar suara klakson mobil dari arah timur. Di dalam mobil tersebut terlihat seorang lelaki yang memakai kemeja berwarna biru dan dasi berwarna merah yang teriak memanggil nama Dafa. Sejenak mereka berempat terdiam dan langsung mencari ke arah timbulnya suara. Ternyata orang tersebut adalah ayah Dafa. Aira pun juga mengenalinya. Mengapa bisa begitu? Apakah Aira pernah bertemu sebelumnya? Tidak. Ia hanya mengetahuinya lewat buku yang pernah ia baca saja. Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwasannya beliau adalah seorang Presiden Drektur Perusahaan bisnis hotel terbesar di daerah Bogor.
“Dafa, gimana kabar kamu sekarang, Nak?”
Dafa hanya diam tanpa kata, tak menjawab
pertanyaan Papanya.
“Dafa, Papa sedang bicara sama kamu! Janganlah
kamu itu bersikap seperti anak kecil!”
“Kenapa, Pa? Papa marah karena aku bersikap
seperti ini. Emangnya Papa pernah mikirin sedikit aja perasaan aku, enggak kan?
Sudahlah Pa, nggak usah ngurusin aku. Urusin aja tu bisnis Papa. Nanti klien Papa bisa marah lagi. Ok, Pa!
Assalamu’alaikum…(sambil mencium tangan papanya). Ayo bro, cepat naik!”
Mobil itu pun melaju dengan cepatnya. Melihat Dafa
mendengus sambil mengerucutkan bibirnya, Deswa tersenyum tipis. "Seharusnya
loe nggak boleh bersikap seperti itu sama Bokap loe sendiri. Dia bekerja
seperti itu juga demi loe, anaknya!” David menoleh ke arahnya dengan senyum yang
mengembang di bibirnya.
Setelah kejadian itu terjadi, papa Dafa hanya
bisa menggeleng-nggelengkan kepala melihat perbuatan yang dilakukan oleh Dafa,
anaknya. Lantas ia pun meninggalkan tempat tersebut dan berniat kembali ke
kantor untuk melanjutkan tugasnya sebagai Presiden Direktur. Ketika Aira
melihat langsung kejadian tersebut, ia memperbanyak Istighfar di dalam hatinya.
Timbul perasaan dalam hatinya untuk merubah sikap Dafa menjadi lebih baik lagi.
Itulah kewajiban manusia dengan manusia lainnya. Tidak
membiarkan seseorang tersesat pada jalan yang salah yakni jalan yang dimurkai
oleh Allah swt. melainkan menunjukkan padanya
jalan yang benar yakni jalan yang diridhoi oleh Allah swt.
“Astaghfirullah! Sudah hampir sore aku masih
belum pulang. Aku harus segera pulang!”
Sebelum pulang, ia teringat akan pesan ibunya
agar jangan lupa mengambil kembali wadah pisang gorengnya.
“ Assalamu’alaikum.. Permisi, Ibu! Saya mau
mengambil wadah pisang goreng.”
“Wa’alaikumsalam… Oooo ya, Nak! Tunggu sebentar!”
(mencari wadah tersebut dan mengembalikannya kepada Aira)
“Iya, Ibu.”
“Ini, Nak. Terima kasih.”
“Sama-sama, Ibu.”
Sambil mengayuh sepeda, Aira pun melanjutkan
perjalanannya kembali. Di Tengah perjalanan, tiba-tiba awan menjadi gelap. Suara
petir pun terdengar amat kerasnya, sehingga membuatnya terkejut akan hal itu.
Aira mempercepat laju sepedanya. Ia berpikir, jika tidak segera sampai ke rumah
sekarang maka seluruh tubuhnya akan terguyur beribu-ribu tetes air hujan.
Alhamdulillah… Aira sudah sampai di rumah dengan
selamat. Ia mengucapkan rasa syukur kepada Allah swt. Rasa syukur itu, ia
tunjukkan dengan melaksanakan ibadah sholat lebih giat lagi. Baik sholat fardhu
maupun sholat sunnah.
“Kriiiing…Kriiiing…Kriiiing…” Alarm jam pun
berbunyi menunjukkan angka tepat jam 12 malam. Ia terbangun sambil mengusap-usap
matanya dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah selesai,
ia mengambil mukenah beserta sajadah. Sambil memakai mukenahnya, ia
membentangkan sajadahnya menghadap arah kiblat. Mulailah Aira melaksanakannya
kewajibannya yakni sebagai status hamba.
“Yaa… Allah… Tunjukkanlah kepada Dafa, mana yang
benar dan mana yang salah. Bukakanlah hatinya untuk menerima permintaan maaf
dariku. Aamin.”
***
Pagi-pagi sekali, Aira sudah mengambil sepedanya
dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa pula, ia juga membawa pisang
goreng yang akan dijualnya nanti. Perjalanan yang Aira tempuh sekarang lebih
berhati-hati. Ia berkata bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Sesampainya
di sekolah.
“Aira, tunggu. Aku mau bicara penting sama kamu!”
ucap Dafa sambil berlari mengejar Aira diikuti oleh kedua temannya.
“Oooo, kalian. Ada apa? Bukannya kalian marah
kepada saya?” heran Aira
“Aira kami bertiga disini meminta maaf kepada
kamu khususnya aku. Kejadian yang kemarin membuat kami sadar. Kami bertiga juga
mengucapkan banyak terima kasih ke kamu, ketulusan kamu untuk berani
bertanggung jawab meminta maaf sangat kami hargai, padahal kami bertiga juga
sudah tau yang salah bukan kamu melainkan kami. Maukah kamu menerima permintaan
maaf dari kami? Kami janji tidak akan megulanginya lagi.” ucap Dafa.
“(dengan wajah tersenyum) Nggak perlu juga kalian
bertiga melakukan hal seperti ini. Aku sudah memaafkan kalian sebelum kalian
meminta maaf kepadaku.”
“Sebagai gantinya, aku, Dafa, dan Deswa akan
membantu kamu berjualan pisang goreng. Kamu tidak perlu membayar kami akan hal
itu. Kamu hanya perlu menerima kami sebagai teman kamu. Gimana, kamu mau kan?”
“Iya, terserah kalian bagaimana baiknya. Eitss,
ingat! Kalian juga jangan melupakan tujuan kalian ke sekolah, yakni untuk
mencari ilmu yang bermanfaat dan kewajiban kalian kepada siswa.”
“Ok, Bos!”
Dari waktu ke waktu, mereka berempat semakin
akrab layaknya seorang sahabat. Di sinilah Allah menganugerahkan cinta kepada
Dafa dan juga Aira. Tetapi mereka bertekad untuk tetap focus pada pelajaran. “Jika memang jodoh, pasti Allah akan
menyatukannya dengan cara Allah,” pikir Aira.
***
Tak terasa sudah 3 tahun lamanya mereka
bersahabat. Melewati kerikil-kerikil kehidupan bersama-sama. Bio mereka dalam twitter #We Are
Not Community, But We Are Family#. Sekarang mereka akan melaksanakan wisuda
tahun pelajaran 2016/2017. Betapa cantik dan tampannya mereka, seakan
memancarkan cahaya kebahagiaan dalam hati mereka. Mereka tidak hanya lolos
tetapi juga lulus dengan membawa nilai tertinggi Ujian Nasional dan mereka meraih juara 1 – 4 dengan urutan Dafa,
Aira, David, dan Deswa. Betapa bahagianya orang tua mereka melihat mereka
berhasil apalagi mereka berempat juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan
kuliah di fakultas ternama di Indonesia yakni Universitas Indonesia. Lain halnya dengan Dafa, papanya sudah
mengajaknya kuliah di luar negeri. Dafa menyetujui akan hal itu, membuat bangga
mama dan papanya. Tetapi ia berjanji dalam hatinya, ketika ia sudah kembali ke
Indonesia melanjutkan bisnis Papanya yang dimulai dari nol hingga sekarang. Ia
akan mencari Aira dan mengajaknya kepada hubungan yang lebih serius yakni
ikatan suci pernikahan.
***
Hari berganti hari, bulan
berganti bulan, tahun berganti tahun. Sudah 4 tahun mereka tidak bertemu.
Sekarang mereka bisa mewujudkan cita-cita mereka. Aira menjadi seorang dokter
spesialis kecantikan, David menjadi seorang TNI angkatan udara, sedangkan Deswa
menjadi seorang psikolog. Di sebuah Rumah Sakit ternama, di sinilah Aira bekerja. Di dalam ruangannya ia termenung akan Dafa yang belum juga kembali dari Kairo, Mesir.
“Dok, ini pasien ke lima.”
“Ia, suruh masuk, Sus!”
Dengan memakai jas berwarna hitam dan di dalamnya memakai kemeja berwarna biru.
“Selamat pagi, Pak! Ada yang bisa saya bantu?” (dalam hati) “baru kali ini saya menemukan pasien laki-laki di ruangan saya.” Aira dengan penuh heran.
Tiba-tiba pasien ini memberikan bunga kepada Aira di dalamnya terdapat sebuah surat. Ia pun membukanya. Disitu terdapat tulisan,
Will you be my
wife? :)
Dafa
“Dafa!”
“Apakah kamu bersedia, Aira?” dengan wajah penuh
dengan penasaran.
Tanpa berpikir panjang Aira langsung
menganggukkan kepalanya. Dafa sangat senang mendengar ucapan dari Aira. Mereka
berdua merencanakan pesta pernikahan di sebuah hotel berbintang lima bertabur
bintang dengan mengambil tema islami. Tak lupa pula mereka juga mengundang
sahabat-sahabatnya di acara tersebut. Mereka berdua pun hidup bahagia
selamanya.
TAMAT
Ema, look at my new blog pleas... :D
BalasHapusizzatul01.blogspot.com :P
thanks..